Breaking News
Loading...

Tentang Penulis, Reza Muslim Adiatma

"Aku Hanya Manusia biasa dari Milyaran manusia yang tercipta di dunia, mencoba melakukan hal yang bermanfaat dengan cara ku, agar kemudian bisa terlihat berbeda dari Milyaran manusia Lainnya"
Seorang Muslim, saat ini saya menekuni usaha Property Syariah, Internet Marketers dan Memiliki Usaha Travel di Jakarta
diantara cinta dan karunia Kaia Khalifah Azzamy &
Kaira Humaira Azzahra
,
Selasa, 21 Oktober 2014

Cerita Kunjungan Saya dan Pelajaran Berharga yang saya dapatkan dari Rustono Tempeh

Well jika sudah membaca Biografi Rustono Tempeh - Seorang Pengusaha asal Indonesia yang sukses membangun bisnis di Jepang. itulah Highlight dari kisah awal keberhasilan beliau, dan ini dia cerita pertemuan saya dengan Rustono-San. Pada tanggal 3 oktober 2014, saya bertemu beliau di Kyoto, Janjian melalui email yang saya kirim yang saya temukan di Twitter Beliau, tepat jam 10 pagi saya di jemput di depan starbuck di bawah menara Kyoto, dan diajak menaiki mobil family van Mercedes yang berwarna putih, yang ternyata didalamnya Rustono-san tidak sendiri, beliau memperkenalkan saya dengan Pemuda yang sedang belajar merintis bisnis di Jepang langsung dari Pak Rustono, beliau masih muda, namanya Mas Sangaji
Rustono mengajak saya jalan jalan ke Kiyomizudera salah satu world heritage dan kuil tercantik yang berada di Jepang, lalu mengajak saya untuk bermalam di tempatnya, sebelum menuju rumahnya beliau membawa saya ke Pabriknya, Jujur setelah saya lihat pabriknya, pabrik ini  kecil dan
sederhana – tidak seperti bayangan saya dan mayoritas orang Indonesia yang beranggapan bahwa pabrik itu harus besar dengan mesin dan karyawan yang banyak hhe – tetapi pernyataan ini tidak saya ungkapkan kepada beliau – maaf ya pak kalau bapak tersinggung saat membaca ini, silahkan di baca dulu sampai habis he.he..)
Kemudian dalam banyaknya diskusi saya dan Rustono, ternyata beliau yang mengungkapkannya lebih dulu tentang respon orang orang indonesia yang berkunjung ke pabriknya, Rustono mengatakan ada banyak orang Indonesia yang datang dan berkunjung dan sebagian kecewa dengan pabrik beliau, mereka over expected dari artikel artikel yang beredar di Indonesia, mereka memenjarakan imajinasi mereka bahwa pabrik itu harus besar dan serba canggih dengan banyak karyawan, dan itu pun yang membuat Rustono Sedih dan kecewa meskipun sebenarnya beliau ga peduli dengan hal itu he..he, 
Dan disinilah saya belajar lagi. Sebagian besar kita melihat sesuatu yang hanya tampak oleh mata kita,karena secara tidak sadar di Bumi Indonesia ini, sering kali sebuah keberhasilan itu digambarkan dengan sesuatu yang komersil, dan saya pun mengalami ini, saya tergabung di beberapa komunitas wirausaha dan suka membaca dan mendengar kisah kisah sukses pengusaha, sebagian besar pengusaha pengusaha berhasil di Indonesia menampakkan keberhasilannya dengan memperlihatkan berapa banyak dia memiliki karyawan, berapa banyak dia memiliki cabang restaurant atau franchisenya, berapa banyak rumah yang dia miliki dan type mobil mewah apa yang saat ini dia kendarai. 
Hal hal ini secara tidak sadar membuat kita kurang memperhatikan hal hal besar yang tidak tampak, bahwa dari Pabrik kecil itu lah yang membangun mimpi mimpinya, menghidupi keluarganya dan mengantarkan nama Rustono ke Dunia Internasional dengan gelar King Of Tempeh. 
Senang sekali hari itu 3 oktober 2014, usai mengunjungi Pabrik pertamanya, ternyata Rustono-San mengajak saya untuk mengunjungi Lokasi lain sebelum ke rumahnya, ya.. ternyata Rustono-San sedang mempersiapkan Pabrik keduanya yang sangat besar dan terletak tepat di pinggir sungai dan jalan utama, sungainya sangat bersih dan udara disana dingin. Beliau mengatakan bahwa esok tanggal 4 Oktober akan ada pembangunan tahap awal di lokasi Pabrik keduanya itu, pemasangan 12 unit container (11 unit container ukuran besar untuk pabrik dan tempat produksi, dan 1 unit container sedang untuk kantor administratif). Pabrik yang dibangun dari container bekas ini akan di sulap menjadi tempat produksi yang sangat eco friendly dan unik, tegas pak Rusto, besok jam 8 akan dimulai pembangunan awalnya. 
Usai melihat pabrik kedua Rustono-san mengajak saya ke Rumahnya, dimana terdapat kantor untuk tahap akhir produksinya, ada chiller besar, dan berbagai alat pengemasan, dirumah itu lah Rustono-san menunjukan peta distribusi Tempenya yang tersebar hampir di semua wilayah Jepang, beliau juga bercerita bahwa Tempenya sudah masuk kedalam salah satu menu utama maskapai terbaik Indon
esia – Garuda Indonesia. 
Di rumah Rustono-san saya disiapkan kamar khas Jepang di Lantai 2, bersebelahan dengan kamar mas Sangaji. Disitu saya banyak cerita tentang kebaikan Rustono-san yang memberikan kesempatan Mas Sangaji untuk tinggal dan belajar langsung dengan beliau.
Usai menaruh barang barang saya,saya diajak untuk makan Japanese Chicken Curry di dekat rumah Rustono-san, meski beliau bukan muslim, tetapi beliau sangat tolerir kepada saya, beliau menanyakan terlebih dahulu status kehalalan makanan di restaurant tersebut.usai makan beliau mengajak kembali pulang dan mengenalkan saya dengan keluarganya, beliau mengenalkan saya kepada istrinya Tsuruko Kuzumoto, beliau adalah wanita yang hebat, pekerja keras, cerdas dan sosok yang hangat, kemudian saya dikenalkan juga kepada Remina Kuzumoto dan Naomi Kuzumoto, mereka kurang mengusai bahasa inggris tetapi mereka sangat hangat, mereka mencoba berkomunikasi melalui ibunya dan Rustono-san bercerita tentang bagaimana anak anaknya sangat berbakat di music, beliau menunjukan saya video video pertunjukan music anaknya. Menjelang malam beliau mengajak saya dan mas sangaji ber onsen di tempat onsen terbaik di daerah shiga.
Usai onsen, saya diajak untuk mengambil tempeh di pabrik yang siap di panen, mas Sangaji mengajukan dirinya untuk mengerjakan pekerjaan tersebut, nah menurut saya.. ini adalah kesempatan emas, dimana saya bisa benar benar merasakan proses produksinya, (meski hanya di tahap akhir), akhirnya saya memutuskan untuk ikut membantu pekerjaan mas Sangaji, sambil bekerja saya dan mas Sangaji banyak bicara tentang keteguhan hati Rustono-san, dan awalnya saya fikir pekerjaan ini mungkin akan cepat namun ternyata tempe yang terdapat di ruang produksi itu ribuan hehehe..capek sekali..padahal itu hanya tahap akhir, saya coba membayangkan betapa letihnya jika saya harus melakukan produksi tempe ini dari tahap awal s.d akhir, dan saya sudah lama sekali tidak kerja kasar seperti ini, yang akhirnya ini semua menyadarkan saya bahwa memang Rustono-san PANTAS mendapatkan keberhasilan saat ini, karena porsi kerjanya sudah sangat begitu besar.
Pekerjaan ini selesai jam 5 pagi, lalu Rustono-san menyarankan saya agar tidur karena besok proses pembangunan tahap awal pabrik kedua akan dilaksanakan pukul 8 pagi, dan yappp.. saya berhasil bangun kesiangan, yang ternyata mas Sangaji dan Rustono-san memang tidak tidur dan sengaja tidak membangunkan saya, setelah solat subuh  saya kemudian diajak Kuzumoto-san mengantar Remina ke Sekolah dan mengantarkan saya ke Pabrik itu. Di Perjalanan itulah saya banyak bicara dengan Kuzumoto-san, ternyata beliau sangat ramah dan suka berdiskusi 
Tiba di Lokasi pabrik, ternyata proses pembangunan tahap awal ini sudah hampir selesai, terlihat beberapa container sudah berjejer rapih di lokasi, dengan alat alat berat yang sedang merapikannya, hebatnya lagi Rustono-san yang tidak tidur itu dengan semangat dan pakaian lapangan ikut terjun dan membantu para kontraktor tersebut  padahal udara disana cukup dingin sekitar 12-15 derajat. 
Usai pemasangan container tahap awal itu, Rustono-san mengajak saya menikmati hutan shiga, hutan ini cantik sekali, berbeda dengan hutan tropis, hutan ini lebih banyak pohon pinus yang sangat tinggi seperti hutan yang digunakan dalam film box office Twilight. Selesai puas dengan hutan dan sungai di shiga saya diajak untuk makan gyudon (nasi dan daging sapi) dan kembali kerumah untuk istirahat (saya hanya tidur 3 jam setengah dan Rustono-san dan Mas Sangaji belum tidur sama sekali, akhirnya kami beristirahat sampai pukul 4 sore.  
Sore hari usai kami beristirahat cukup, karena saya juga memiliki tugas yang harus saya lakukan di Jepang, akhirnya saya pamit kepada Rustono-san dan berterimakasih atas kesediaan, kehormatan dan pelajaran pelajaran berharga yang diberikan kepada saya. Berhubung ada pesanan Tempeh yang harus diantarkan ke restaurant di Kyoto, Rustono san memutuskan untuk mengantarkan saya ke hotel yang sudah saya booking di Kyoto.
Diperjalanan Rustono-san Pernah bercerita tentang pengalamannya, pernah suatu saat ketika pesanan tempehnya begitu banyak, beliau lupa bahwa besok jam 12 siang ada pemesan dari Tokyo yang lupa diantarkan tempehnya,  sehingga diawal pagi hari beliau mempersiapkan pesanannya dan mengantarkannya dengan shinkansen-kereta tercepat-termahal yang hanya berada di Jepang, karena waktu adalah sesuatu yg sangat di hargai di Jepang maka beliau rela mengantarkan tempe yang padahal mungkin ongkos mengantarnya sangat mahal (karena pakai shinkansen menuju Tokyo) dan mengantarkannya berlari lari cepat ke tempat pemesan, sehingga ketika tiba di sana, badan beliau bercucuran keringat dan langsung minta maaf karena lupa mengantarkan, padahal beliau tiba sebelum jam 12, dan padahal pun sebenarnya beliau tidak perlu meminta maaf.
Dan Ternyata pemesanan ini sungguh sangat takjub dan haru akan kerja keras dan Pelayanan Rustono-san, sehingga kemudian dia menyebarkan berita ini kemana mana dan merekomendasikan Tempeh Rustonoh ke semua rekan rekannya. Disini saya melihat bagaimana sebuah Customer care bisa berdampak sangat besar kepada sales & marketing. 
Tiba di Kyoto di perjalanan sebelum menuju Hotel beliau mengajak saya makan dan mangajak saya untuk ikut serta bersama beliau mengantarkan pesanan tempenya ke restaurant yang memesan. Diperjalanan saya melihat bagaimana sosok seorang miliarder berjalan dangan bahu tegap dan kerendahan hati mengantarkan pesanan tempenya kepada customernya. 
Sebelum akhirnya berpisah dengan Rustono-san, beliau memberikan saya satu pasang sumpit, sumpit paling berharga sepanjang sejarah hidup saya, bukan tentang harga saja (meskipun beneran mahal) tetapi juga tentang seseorang guru kehidupan dari negeri yang jauh di Timur sana yang memberikannya dengan tangan dan senyuman hangat yang selalu saya rindukan dalam letihnya rutinitas saya
Usai bertemu dengan Rustono-san, setiap letih akan pekerjaan, saya selalu membandingkannya dengan keletihan beliau, saya belum apa apa disbanding beliau.. maka jangan berharap bisa lebih berhasil dari beliau jika yang saya kerjakan belum lebih berat dari beliau.


9 komentar:

  1. Terimakasih sudah menulis pengalaman yang sangat berharga ini mas Reza.


    Perkenalkan Nama saya Enggal, saya sekarang tinggal di Surabaya sebagai pegawai honorer di S2 kampus ITS. Asal saya dari Jombang mas saya sangat menyukai Tempe dan Tahu dari Jombang dan kebetulan sejak kecil saya ingin sekali menjadi seorang pengusaha dan kebetulan sekali cita-cita saya adalah Menduniakan Tempe sama seperti Rustono Sensei. jujur saya baru mengenal nama Rustono sensei dari hasil surfing di google tentang Tempe di Jepang, kemudian setelah saya banyak membaca profil beliau wah ternyata sudah ada yang mendahului saya. Mengapa titik start saya Jepang? tahun 2013 lalu saya mempunyai teman dari Kyoto Jepang namanya Rika Shimuzu dan Shizuka Yamazaki, mereka berdua datang ke Surabaya selama 3 bulan untuk penelitian di TDC Unair. Mereka sangat menyukai makanan Indonesia karena saya sering mengajak mereka kuliner di Kota Surabaya. Ide Itulah yang membuat saya ingin Menduniakan Tempe.

    Saat ini saya masih menempuh Studi S1 dan Insyaallah Oktober tahun depan wisuda, rencana saya setelah lulus kuliah saya ingin ke Jepang untuk membuka usaha Tempe dan Melanjutkan Studi S2 tapi sudah keduluan sama Rustono sensei. kebetulan sekali juga saya ingin belajar ke beliau untuk memulai bisnis di jepang. kemarin saya sempat mengirimkan e-mail ke Rustono sensei akan tetapi masih belum ada jawaban. mungkin mas Reza ada kontak beliau?

    Terimakasih mas Reza :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. dear Mas Atoz,

      Terima kasih kunjungannya, Rustonon Sensei pernah bicara kepada saya, bahwa banyak sekali email masuk dari banyak orang yang ingin menemuinya, namun tidak sedikit dari mereka yang ternyata membuat Rustono Sensei justru menjadi tidak nyaman, sehingga secara pribadi dia memfilter orang orang yang akan menemuinya. beruntung saya saat itu lolos hehe

      Hapus
    2. Terimakasih sudah direspon mas Reza :). Alhamdulillah Beliau sudah membaca email saya dan langsung menghubungi saya via whatsapp. saat ini saya melakukan penelitian mengenai kekuatan Personal Branding Rustono Sensei, beliau tadi bilang masih sibuk karena akan ada tamu dari Jerman dan Romania akan bergabung di Rustoh Tempe membuat cabang disana. mungkin Mas Reza bisa membantu saya? ini nomor WA saya 085649555782

      Hapus
    3. Gomen mas saat ini saya belum bs membantu lebih dari informasi ini

      Semoga beruntung, jika kelak menjumpai sensei
      Titip salam untuk beliau, bawakan rustono sensei buku beliau sangat senang membaca dan bawakan emping yang manis untuk istrinya, beliau suka sekali

      Hapus
    4. Gomen mas saat ini saya belum bs membantu lebih dari informasi ini

      Semoga beruntung, jika kelak menjumpai sensei
      Titip salam untuk beliau, bawakan rustono sensei buku beliau sangat senang membaca dan bawakan emping yang manis untuk istrinya, beliau suka sekali

      Hapus
  2. Selamat siang mas Reza, perkenalkan saya Yudho. Saya mau diskus dan pelajari pengalaman mas Reza selama bertemu dengan Mas Rustono. Boleh minta contact atau email? thx

    BalasHapus
  3. Selamat siang mas Reza, perkenalkan saya Yudho. Saya mau diskus dan pelajari pengalaman mas Reza selama bertemu dengan Mas Rustono. Boleh minta contact atau email? thx

    BalasHapus
  4. artikel yang menarik , terimakasih ..

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus